Minggu, 17 April 2011

Pengertian, Fungsi dan Jenis Lingkungan Pendidikan

Dalam kehidupan ini, kehidupan manusia selalu akan terpengaruh oleh lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan yang akan memberi pengaruh manusia secara bervariasi. Di dalam UU RI No 2 tahun 1989 tentang Sisdiknas, peranan ketiga tripusat pendidikan itu menjiwai berbagai ketentuan di dalamnya. Pasal 1 Ayat 3 menetapkan bahwa Sisdiknas adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional, Pasal selanjutnya menetapkan tentang dua jalur pendidikan yakni jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Sedang penjelasan UU No 2 tahun 1989 itu menetapkan tentang tangggung jawab bersama antar keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan. Pemahaman peranan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai lingkungan pendidikan akan sangat penting dalam upaya membantu perkembangan peserta didik yang optimal. Pemahaman itu bukan hanya tentang perananya masing – masing, tetapi juga keterkaitan dan saling pengaruh antar ketiganya dalam perkembangan manusia.

A. Pengertian dan Fungsi Lingkungan Pendidikan
Melalui pengalaman kemampuan dan potensi manusia dapat dikembangkan dengan baik. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial manusia secara efisien dan efektif itulah yang disebut dengan pendidikan. Dimana tempat berlangsungnya pendidikan tersebut disebut lingkungan pendidikan, khususnya ketiga lingkungan tersebut yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Berdasrkan perbedaan ciri – ciri penyelenggaraan pendidikan pada ketiga lingkungan pendidikan itu, maka ketiganya sering dibedakan menjadi pendidikan informal, formal dan nonformal. Pendidikan informal, formal dan nonformal itu sering dipandang sebagai subsistem dari sistem pendidikan ( Umar Tirtaraharja et.al. 1990: 13-15 ) serta secara bersama – sama menjadikan pendidikan berlangsung sepanjang hayat. Dalam sisdiknas itu membedakan dua jalur pendidikan, yakni pendidikan sekolah dan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan melalui kegiatan belajar mengajar yang berjenjang yang berkesinambungan mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tingkat tinggi. Sedangkan pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang berkesinambungan baik yang dilembaga ataupun tidak, yang meliputi pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat dan pendidikan pra sekolah. Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan lingkungan pendidikan itu terutama agar proses pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif dalam perkembangannya di masyarakat. Masyarakat akan dapat berfungsi dengan sebaik – baiknya jika setiap individu belajar berbagai hal, baik pola – pola tingkah laku umum maupun peranan yang berbeda – beda. Untuk itu proses pendidikan harus berfungsi untuk mengajarkan tingkah laku umum dan untuk mempersiapkan individu untuk peranan – peranan tertentu di masyarakat. Perlu pula dikemukakan bahwa pelaksanaan pendidikan dilakukan melalui tiga kegiatan yakni mengajar, membingbing dan atau melatih. Meskipun ketiga aspek itu merupakan tritunggal namun dapat dibedakan aspek tujuan pokok dari ketiganya yakni :

1) Membingbing, terutama berkaitan dengan pemantapan jati diri dan pribadi dari segi – segi perilaku umum.
2) Mengajar, terutama berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan.
3) Melatih, terutama berkaitan dengan keterampilan dan kemahiran.

B. Tripusat Pendidikan
Seperti yang telalh dikemukakan sebelumnya bahwa yang termasuk tripusat pendidikan adalah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam menjalankan prosesnya yang memegang peranan penting paling pertama adalah lingkungan keluarga. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa seseorang ketika baru dilahirkan pasti pertama kali hanya mengenal lingkungan di sekitar keluarga dan seiring dengan bertambahnya umur semakin berkembang ke lingkungan yang lebih luas yaitu sekolah dan masyarakat.

1. Keluarga
Lingkungan pertama yang mempengaruhi pendidikan seseorang adalah keluarga. Keluarga merupakan kumpulan atau pengelompokan orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga dapat terdiri dari keluarga inti, ayah, ibu dan anak, atau keluarga yang diperluas yaitu keluarga inti ditambah orang lain yang masih sedarah, paman, bibi, kakek, nenek,keponakan dan lainnya. Nah kesemua itulah baik situasi di sekitar lingkungan keluarga, lingkungan perumahan, tingkat kemakmuran dan tentu saja situasi kondisi dalam keluarga itu sendiri yang akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Seiring dengan perkembangan zaman dan juga perkembangan aspirasi individu dan masyarakat peran keluarga yang fungsinya memberikan pendidikan pada aspek pembudayaan maupun penguasaan pengetahuan dan keterampilan semakin mudah dalam melaksanakan fungsi tersebut karena adanya lingkungan sekolah. Pendidikan keluarga merupakan jalur pendidikan di luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberkan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan. Menurut Ki Hadjar Dewantara suasana keluarga merupakan tempat yang sebaik – baiknya untuk melakukan pendidikan orang seorang atau pendidikan individual maupum pendidikan sosial. Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan ke arah pembentukan kepribadian yang utuh bagi anak – anak dan juga remaja. Di sinilah peran orang tua sebagai pembingbing, pengajar dan pelatih sangat diperlukan. Di dalam keluarga ibu bertanggung jawab untuk mengasuh anak, untuk itu hubungan antara ibu dan anak perlu mendapat perhatian, utamanya pengaruh pengawasan berlebihan terhadap perkembangan anak, levy membedakan pengawasan berlebihan anak ini menjadi dua yaitu memanjakan dan mendominasi anak. Anak yang dimanjakan cenderung akan bersifat tidak penurut dan suka menentang sebaliknya anak yang diasuh oleh ibu yang suka mendominasi anak akan berkembang menjadi penurut tetapi selalu bergantung pada orang lain. Dalam proses pembelajaran anak yang diperlakukan dengan salah satu metode pengawasan itu tidak mengalami sesulitan dalam belajar. Di samping hubungan antara ibu dan anak komposisi keluarga juga akan berpengaruh terhadap perkembangan, utamanya proses sosialisasi. Seseorang yang hanya sendiri dibandingkan dengan yang mempunyai saudara lebih akan lebih cepat dalam bersosialisasi dan memiliki pengalaman yang lebih karena bisa bertukar pendapat dengan saudaranya.
Selanjutnya peranan ayah juga sangat penting. Bagi anak laki – laki ayah merupakan sosok teladan yang harus dicontoh karena dapat melindungi dan memyelesaikan semua masalah. Untuk anak perempuan ayah dipandang sebagai pendorong berkembangnya feminitas ( kewanitaan ) yang terjadi jika ayah sering memberikan komentar terhadap pakaian yang dipakainya, tingkah laku serta sifat – sifat kewanitaannya. Sebaliknya jika ayah memperlakukan anak perempuannya seperti anak laki – laki maka feminitas anak akan mengalami gangguan dalam perkembangannya. Itulah yang mengakibatkan keluarga sangat penting peranannya dalam menumbuhkan perkembangan anak - anaknya ke arah yang sepantasnya. Akhirnya keluraga juga semestinya ikut mendukung program – program lingkungan pendidikan lainnya. Keikutsertaan keluarga dalam perencanaan, pemantauan dan pelaksanaan maupun dalam evaluasi dan pengembangan anak sangat mutlak diperlukan.

2. Sekolah
Sekolah adalah sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan.Karena dengan kemajuan zaman,keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi generasi muda terhadap iptek.Peranan sekolah sangat penting dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk proses pembangunan masyarakaatnya.OLeh karena itu sekolah menyiapkan manusia Indonesia sebagai individu,warga masyarakat,negara dan dunia di masa depan.Sekolah mampu melaksanakan fungsi pendidikan secara optimal,yakni mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan tujuan nasional(pasal 3).Tujuan nasional itu diupayakan pencapaiannya dalam pembangunan nasional,dengan demikian pembangunan nasional di bidang pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju,adil dan makmur serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik berkenaan dngan aspek jasmaniah dan rohaniah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945(UU No 2 Tahun 1989 butir menimbang ayat b).Salah satu yang dilakukan sekolah adalah secara bertahap mengembangkan sekolah menjadi suatu tempat pusat pelatihan(training centre) manusia di masa depan.Dimana sekolah seharusnya secara seimbang dan serasi menjamah aspek pembudayaan,penguasaan pengetahuan dan keterampilan peserta didik.Alternatif yang dapat dilakukan sekolah adalah.
A. Pengajaran yang mendidik
Yakni pengajaran yang secara serentak memberi peluang pencapaian tujuan instruksional bidang studi dan tujuan-tujuan umum pendidikan lainnya.Dimana guru harus mempunyai wawasan pendidikan yang mantap serta menguasai berbagai srtategi belajar mengajar.Penguasaan strategi belajar mengajar memberi peluang memilih variasi belajar mengajar yang bermakna,sedangkan pemantapan wawasan pendidikan akan memberika landasan yang tepat dan kuat di dalam pemilihan tersebut.Setiap keputusan dan tindakan guru harus memberikan dampak kepada siswa,baik efek instruksional yaitu efek langsung dari bahan ajaran yang menjadi pesan dalam belajar mengajar.Dan efek pengiring yaitu efek tidak langsung dari bahan ajaran atau pengalaman belajar yang dihayati oleh siswa sebagai akibat dari strategi belajar mengajar yang menjadi landasan kegiatan belajar mengajar tersebut.Dimana yang tertuju pada tujuan pendidikan yang lebih umum dan fundamental serta berjangka panjang.Seperti kreativitas,berpikir kritis,keterbukaan,tenggang rasa,bekerjasama secara efektif,yang semuanya memerlukan waktu yang sangat panjang.Pengalaman belajar itu sangat unik dan komplek yang dapat dibedakan menjadi tiga jenis sesuai dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai(Raka Joni,1985:14;Sulo Lipu La Sulo,1990:54)

1 .Pengkajian untuk pembentukan pengetahuan-pengalaman secara utuh baik hasilnya atau prosesnya,yang dapat dilakukan dalam bentuk beraneka ragam,seperti:
a. Dari segi caranya: mendengarkan ceramah,membaca buku,percobaan laboratorium
b. Dari segi peranan subyek didik di dalam pengolahan pesan:ekspositorik dan problematic
c Dari segi pengolahan pesan:deduktif dan induktif
d. Dari segi pengaturan subyek didik:kelompok besar atau kelompok kecil

2. Latihan untuk sasaran pembentukan keterampilan(fisik,social,maupun intelektual
3 .Penghayatan kegiatan sarat nilai untuk sasaran pembentukan nilai dan sikap,secara langsung,baik sebagai pelaku atau penerima perlakuan.
Pemilihan kegiatan belajar mengajar yang tepat akan memberikan pengalaman belajar yang efisien dan efektif untuk mewujudkan pembangunan manusia seutuhnya.Hal ini dapat dilakukan secara kontinyu jika guru memiliki wawasan kependidikan yang mantap dan pendekatan cara belajar siswa aktif.

B. Peningkatan dan pemantapan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan (BP)di sekolah
BP merupakan pengembangan pribadi peserta didik,khususnya aspek sikap dan prilaku atau kawasan afektif.Pelaksanaan BP di sekolah menitikberatkan kepada bimbingan terhadap perkembangan pribadi melalui pendekatan perseorangan atau kelompok.

C Pengembangan perpustakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar(PSB)
Perpustakaan bukan hanya sumber pustaka tetapi juga sumber belajar lainnya,baik sumber yang dirancang maupun yang dimanfaatkan.Dengan kedudukan sebagai PSB diharapkan peranannya akan lebih aktif dalam mendukung program pembelajaran,bahkan dapat berperan sebagai ‘mitra kelas’dalam upaya menjawab tantangan perkembangan iptek yang semakin cepat.PSB ini harus memadai,karena dengan hal itu akan dapat mendorong siswa dan warga sekolah lainnya untuk belajat mandiri.
D. Peningkatan dan pemantapan program pengelolaan sekolah,khususnya yang terkait dengan peserta didik
Pengelola sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan seharusnya merupakan refleksi masyarakat pancasilais.Gaya kerja pengelola kesiswaan sangat berpengaruh,bukan hanya melalui kebijakannya tetapi juga aspek keteladanannya.Semua alternatif yang telah dipaparkan akan terlaksana jika mendapat dukungan dari program pengelolaan sekolah,baik sarana/prasarana maupun dukungan iklim profesional yang memadai.
Demikian alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan fungsi sekolah sebagai salah satu pusat pendidikan.Alternatif itu tentulah seiring dengan upaya penigkatan mutu masukan instrumental dari sekolah,seperti kurikulum,tenaga kependidikan dan sarana/prasarana.

3. Masyarakat
Kaitan masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi, yakni:
a. Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang dilembagakan(jalur sekolah dan jalur luar sekolah) maupun yang tidak dilembagakan(jalur luar sekolah)
b. Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tak langsung, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.
c. Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (utility). Manusia berusaha mendidik dirinya sendiri dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia dimasyarakatnya dalam bekerja, bergaul, dan sebagainya.
Manusia sepanjang hidupnya selalu terbuka akan peluang memperoleh pendidikan (asas pendidikan seumur hidup) . Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari masyarakat itu beserta sumber-sumber balajar yang tersedia di dalamnya. Untuk Indonesia , perkembangan masyarakat itu sangat bervariasi , sehingga wujud sosial kebudayaan dalam masyarakat Indonesia dewasa ini, menurut koentjaraningrat( dari wayan Ardhana,1986: Modul 1/71-72) paling sedikit dapat dibedakan menjadi enam tipe sosial-budaya, sebagai berikut:

a. Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana, hidup dengan berburu, dan belum mempunyai kebiasaan menanam padi.
b. Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatannya adalah desa komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial sedang, gelombang pengaruh kebudayaan Hindu tidak dialami atau sangat kecil.
c. Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan sistem bercocok tanam di ladang atau sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatan adalah desa komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sedang, gelombang pengaruh kebudayaan Hindu tidak dialami atau sangat kecil, sehin gga terhapus oleh pengaruh agama islam.
d. Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan sistem bercocok tanam di sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatannya adalah komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial agak kompleks.
e. Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sektor perdagangan dan industri yang lemah.

Terdapat sejumlah lembaga kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial yang mempunyai peran dan fungsi edukatif yang besar, antar lain: kelompok sebaya, organisasi kepemudaan (pramuka, karang taruna, remaja mesjid, dan sebagainya. Faktor yang penting dalam lingkungan masyarakat yakni media massa. Media massa mempunyai tiga fungsi, yakni informasi, edukasi dan rekreasi.

C. Pengaruh Timbal Balik Antara Tripusat Pendidikan Terhadap Perkembangan Peserta Didik.
Perkembangan peserta didik, seperti juga tumbuh-kembang anak pada umumnya, dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni hereditas, lingkungan proses perkembangan dan anugerah. Khusus untuk faktor lingkungan, peranan tripusat pendidikan itulah yang paling menentukan, baik secara sendiri-sendiri ataupun secara bersama-sama.
Pusat pendidikan dapat berpeluang memberi kontribusi besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni:
1. Pembibingan dalam upaya pemantapan pribadi berbudaya.
2. Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan.
3. Pelatihan dalam upaya pemahiran.
Di samping peningkatan kontribusi setiap pusat pendidikan terhadap perkembangan peserta didik, diprasyaratkanpula keserasian kontribusi itu, serta kerja sama yang erat dan harmonis antar tripusat tersebut berbagai upaya dilakukan agar program-program pendidikan dan setiap pusat pendidikan tersebut saling mendukung dan memperkuat antara satu dengan lainnya. Di lingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal (perbaikan gizi, permainan edukatif, dan sebagainya) yang dapat menjadi landasan pengembangan selanjutnya di sekolah dan masyarakat. Di lingkungan sekolah diupayakan berbagi hal yang lebih mendekatkan sekolah dengan orang tua siswa(organisasi orang tua siswa, kunjungan rumah oleh personil sekolah, dan sebagainya). Selanjutnya sekolah juga mengupayakan agar programnya berkaitan erat dengan masyarakat di sekitarnya(siswa ke masyarakat, narasumber dari masyarakat ke sekolah, dan sebagainya). Akhirnya lingkungan masyarakat mengusahakan berbagai program yang menunjang program keluarga dan sekolah. Dengan kontribusi tripusat pendidikan yang saling memperkuat dan saling melengkapi itu akan memberi peluang mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu. Titik kulminasi dari pemikiran tersebut di atas akhirnya dituangkan dalam Kep. Men. Dikbud RI No. 0412/U/1987 tanggal 11Juli 1987 tentang penerapan muatan lokal kurikulum sekolah dasar.Dalam petunjuk penerapan muatan lokal kurikulum SD (Lampiran Kep.Men.Dikbud No. 0412/U1987) dikemukakan beberapa tujuan yang lebih rinci dari muatan lokal tersebut yang dapat dikategorikan dalam dua kelompok, sebagai berikut :
1. Tujuan-tujuan yang segera dapat dicapai, yakni:
a. Bahan pengajaran lebih mudah diserap oleh murid.
b. Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.
c. Murid dapat menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya.
d. Murid lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya yang terdapat di daerahnya.
2. Tujuan-tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya yakni :
a. Murid dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya.
b. Murid diharapkan dapat menolong orangtuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
c. Murid menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar